Zakat Dan Permasalahannya | Muslim Life
Home » Panduan Ibadah » Zakat Dan Permasalahannya

Zakat Dan Permasalahannya

  • A.
    Pendahuluan

    Zakat merupakan pokok ajaran Islam yang penting dan strategis. Zakat tidak saja berfungsi membentuk kesalehan pribadi tetapi juga kesalehan sosial. Karena itu, zakat sering juga disebut dengan ibadah maliyah ijtima`iyah. Pembentukan kepribadian yang memiliki kesalehan pribadi dan sosial ini menjadi salah satu tujuan diturunkannya risalah Islam kepada manusia. Dengan zakat, keadilan sosial dan ekonomi dapat tercipta sehingga kesejahteraan tidak hanya beredar di kalanganorang-orang kaya sebagaimana firman Allah “Apa saja harta yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (Q.S. al-Hasyr : 7)
    Zakat sebagai ibadah khusus pertama kali disyariatkan di Madinah pada bulan syawal tahun kedua setelah hijrah setelah sebelumnya disyariatkan puasa Ramadhan dan zakat fitrah. Perintah zakat di dalam al-Qur’an selalu digandengkan dengan perintah shalat pada delapan puluh dua kali dalam berbagai surat, sekaligus menunjukkan bahwa zakat tidak bisa dipisahkan dari perintah shalat itu sendiri. Melakukan shalat tetapi meninggalkan zakat padahal memiliki kemampuan berarti menjauhkan diri dari kasih sayang Allah, karena kasih saying-Nya akan diberikan kepada orang yang menyayangi sesamanya, “Siapa yang tidak menyayangi manusia maka tidak akan disayangi Allah ‘Azza wa Jall” (HR. Muslim)
     

  • B.
    Pengertian Zakat
    Zakat adalah rukun ketiga dari rukun Islam. Secara harfiah zakat berarti “tumbuh”, “berkembang”, “menyucikan” atau “membersihkan”. Kata zakat juga dapat berarti kebaikan, sebagaimana firman Allah :



    Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kebaikannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya). (Q.S. al-Kahf : 81)
    Selain itu, zakat juga diartikan dengan “harta yang merupakan hak Allah yang dikeluarkan untuk orang-orang fakir (Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah). Hal itu karena harta tersebut dibersihkan dengan cara mengeluarkan hakorang lain.
    Adapun menurut istilah, para ulama bervariasi dalam memberikan definisi.

    1. Menurut Malikiyah, zakat adalah mengeluarkan harta dalam jumlah tertentu apabila telah mencapai nisab kepada orang yang berhak menerimanya dengan syarat harta itu milik sempurna, telah cukup satu tahun kecuali untuk barang tambang, pertanian, dan rikaz.
    2. Hanafiyah memberikan batasan bahwa zakat adalah mengalihkan kepemilikan sebagian harta dalam jumlah tertentu kepada orang tertentu yang telah ditentukan oleh syara’ karena Allah.

    Istilah pengalihan kepemilikan menindikasikan bahwa harta yang tidak dimaksudkan sebagai bentuk pengalihan yang sifatnya mubah, seperti memberi makan anak yatim sebagai bentuk pembayaran zakat kecuali bila anak anak tersebut diberi makanan dalam jumlah tertentu. Sebagian harta juga menunjukkan bahwa harta itu merupakan bagian dari harta yang lain, sehingga memberikan kemanfaatan seperti tempat tinggal bagiorang miskin tidak dapat dikatakan sebagai zakat atau pengganti zakat. Jumlah tertentu maksudnya adalah sejumlah kadar yang wajib dibayarkan dari harta yang telah mencapainisab yang diberikan kepada kelompok tertentu yang telah ditentukan oleh Allah dalam dengan niat mencari ridha Allah.

    1. Syafi’yah mendefinisikan bahwa zakat adalah nama sesuatu yang dikeluarkan dari harta dan badan dengan criteria tertentu.
    2. Hanabilah memberikan definisi zakat sebagai hak wajib dari harta tertentu bagi kelompok tertentu yang dikeluarkan pada waktu tertentu. Jadi, harta yang dikeluarkan yang hukumnya sunnat tidak termasuk zakat begitu pula waktu tertentu maksudnya harta itu dikeluarkan pada waktu-waktu tertentu seperti setelah puasa ramadhan atau telah mencapai haul, sehingga harta nazar dan kafarat tidak termasuk di dalamnya.

    Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa zakat itu adalah menunaikan hak wajiborang tertentu yang diambil dari harta.

  • Adabeberapa terma yang sering dikaitkan dengan zakat, seperti sedekah (¡adaqah), pemberian (`a¯iyyah), infak (inf±q), hibah (hibah) dan wakaf (waqf). Masing-masing bentuk pemberian ini akan diuraikan secara khusus pada kesempatan yang lain. Secara singkat, berikut ini penjelasannya.

    1. Sedekah (¡adaqah)

    Di dalam al-Qur’an suratal-Taubah ayat 103, Allah menyebut kelompok yang berhak menerima zakat dengan menggunakan kata ¡adaqah : إنما الصدقات … (Bahwasanya sedekah itu diperuntukkan kepada…). Sedekah yang dimaksud adalah zakat itu sendiri. Demikian pula di dalam salah satu haditsnya Rasulullah menjelaskan tentang cara mengeluarkan zakat dengan memakai kata ¡adaqah: “Sesungguhnya shadaqah diberikan kepada orang miskin”. Kata ¡adaqah sendiri mengandung dua makna, yaitu pertama, harta yang dikeluarkan dengan maksud mencari ridha Allah, baik yang bersifat wajib maupun sunnat; dan kedua, khusus harta yang wajib di keluarkan. Namun, dalam penggunaan sehari-hari bagi umatIslamIndonesia lebih dikonotasikan sebagai pemberian yang sifat sunnat.

    1. Hibah

    Hibah adalah pemberian suka rela dari seseorang tanpa mengharapkan balasan.

    1. Pemberian (`a¯iyyah)

    Yaitu, segala pemberian dalam bentuk harta, baik yang dilakukan karena mengharap ridha Allah, wujud kepedulian kasih, maupun untuk maksud-maksud yang lain. Pemberian tidak terkait dengan jumlah atau ukuran tertentu, tergantung pada kerelaan si pemberi. Jadi, pemberian ini lebih umum daripada zakat, sedekah, dan hibah.

    1. Infak

    Infak mengandung arti mengeluarkan sesuatu yang dimiliki, baik berupa harta, tenaga, pikiran, jiwa dan lain-lain untuk berbagai tujuan, baik untuk mencari ridha Allah maupun tujuan yang lain. Di dalam al-Qur’an dikatakan bahwaorang yang beriman adalah yang berani meninfakkah harta dan jiwanya di jalan Allah. Infak juga berlaku kepada keluarga, seperti seorang suami menafkahi anak dan istrinya. Infak dapat berlaku wajib dan sunnat. Jadi, infak lebih umum

    1. Waqaf

    Menahan suatu harta untuk dimanfaatkan tanpa merusaknya demi berbagai kepentingan yang dianjurkan agama. Wakaf ini dapat berupa harta tidak bergerak seperta tanah dan bangunan juga dapat berupa harta bergerak seperti uang. Waqaf uang sering pula diistilahkan dengan waqaf tunai yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan sosial (di jalan Allah). Waqaf ini bila dilakukan untuk mencari ridha Allah maka hukumnya sunnat.
     

  • C.Hukum Zakat
    Zakat merupakan salah satu rukun Islam, dan menjadi salah satu unsur pokok bagi tegaknya syariat Islam. Oleh sebab itu, hukum zakat adalah wajib (fardhu) atas setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Zakat termasuk dalam kategori ibadah mahdhah (seperti shalat, puasa, dan haji) yang telah diatur secara rinci dan paten berdasarkan al-Qur’an, Sunnah, dan ijmak.



    Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan men,sucikan mereka, dan mendo’alah untuk mereka, sesungguhnya do’a kamu itu menentramkan jiwa mereka. Dan Allah maha mendengar dan maha melihat (Q.S At-Taubah : 103)
    Dalam salah satu hadisnya Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Ibn Umar, beliau bersabda:



    Islam dibangun atas lima pondasi; (1) Syahadatain, (2) melaksanakan Shalat, (3) Mengelurkan zakat, (4) haji kebaitullah, (S) puasa ramadhan.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
    Imam Syafi’i dalam al-Umm mengatakan bahwa Allah telah mewajibkan zakat (bagi kaum muslimin) dan haram hukumnya bagi orang-orang yang menahannya (tidak mau mengeluarkannya). Allah mengancam orang-orang yang tidak mau zakat, berlandaskan firman-Nya dalam surah At-Taubah ayat 34.



    “Dan orang -orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya dijalan Allah, maka beritahukanluh kepada mereka akan adzab yang sangat pedih, pada hari emas peruk itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggunmg mereka, lalu khabarkan kepad mereka inilah hartra bendamu yang kamu simpanuntuk dirimu .sendiri, raskanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan. (At­Taubah: 34­)
    Selain itu, juga terdapat ijmak ulama yang memperkuat wajibnya zakat. Oleh karena itu, semua ulama mengatakan bahwa zakat adalah kewajiban di antara kewajiban-kewajiban yang sangat penting dalam Islam, siapa yang mengingkari kewajibannya sungguh dia telah keluar dari Islam, dia harus dibunuh karena kekafirannya, adapun orang yang tidak mau mengeluarkannya, tapi dia tidak mengingkarinya sebagai kewajiban, dia telah berdosa tapi dia tidak keluar dari Islam.
    Kewajiban zakat hanya diberlakukan kepada umat Islam yang baligh, berakal, merdeka. Allah tidak pernah menuntut kepada selain umat Islam, karena mereka berada di luar agama Islam. Pendapat ini diutarakan oleh Yusuf Qardhawi dengan beberapa landasan, di antaranya riwayat tentang perintah kepada salah seorang shahabat yang hendak berdakwah, Rasulullah Saw menyerukan kepada dia agar dia memulai dakwahnya dengan Tauhid, baru setelah itu menyeru kepada ajaran Islam yang lainnya. Ini membuktikan bahwa tidak diperbolehkan meminta zakat kepada seseorang yang belum masuk agama Islam, termasuk orang kafir. Kemudian beliau mengikuti beberapa perkataan para ulama dengan penjelasan bahwa zakat adalah salah satu dari rukun Islam, maka tidak wajib bagi orang kafir sebagaiman ibadah shalat dan shaum.
    Sanksi bagiorang yang enggan membayar zakat tidak hanya di akhirat berupa azab yang pedih tetapi juga di dunia. Orang yang enggan membayar zakat dapat dikenai hukuman ta’zir (ditentukan oleh hakim) dan hakim sebagai wakil pemerintah dapat menyita hartanya. Dalam hal ini Rasulullah Saw pernah bersabda, “Barangsiapa yang menunaikan (zakat) karena mengharapkan pahala maka baginya pahala itu, tetapi bagi yang menahannya maka kami akan menghukumnya dan menyita separuh unta/hartanya karena zakat merupakan salah satu kewajiban yang ditetapkan Allah, dan keluarga Muhammad Saw tidak berhak atasnya. (HR. Ahmad, Nasai, dan Abu Dawud).
    Bahkan, Abu Bakar r.a., di awal pemerintahanya, memerangi kelompok masyarakat yang enggan membayar zakat. Beliau mengatakan, “Demi Allah, saya akan memerangiorang yang membedakan antara shalat dengan zakat karena sesunnguhnya zakat itu merupakan kewajiban harta. Demi Allah, sekiranya mereka menolak membayarnya zakat seperti apa yang telah lakukan kepada Rasulullah Saw, maka saya akan memerangi mereka.” (HR. Jama’ah kecuali Ibn Majah).
     
    D.Syarat-syarat Zakat
    Zakat harus memenuhi syarat-syarat tertentu, baik syarat wajib maupun syarat sahnya. Adapun syarat wajib zakat berlaku pada subyek dan obyek zakat sebagai berikut:

    1. Yang berlaku bagi subyek (wajib zakat) adalah :
      1. Merdeka, sehingga tidak berlaku zakat bagi seorang budak;
      2. Islam, sehingga tidak berlaku zakat bagiorang kafir karena zakat merupakan ibadah penyucian sedangkanorang kafir bukanorang suci.

    Orang kafir dapat dikenai kewajiban berkaitan dengan harta dalam dua hal, yaitu asyur dan jizyah. `Asyur adalah adalah pajak sepuluh persen dari harta daganganorang kafir yang melakukan perdagangan di wilayah Islam walaupun belum mencapainisab zakat. Jizyah adalah pajak yang dikenakan kepadaorang kafir atas diri dan harta mereka yang ukurannya ditetapkan oleh pemerintah.

    1. Balig merupakan syarat zakat bagi hanafiyah, namun jumhur ulama tidak mensyaratkannya karena kewajiban zakat itu berlaku pada harta sehingga yang teknik pembayarannya dapat dilakukan oleh walinya.
    2. Tidak memiliki utang yang bila dibayar maka nilai hartanya tidak memenuhi wajib zakat.
    3. Yang berlaku pada obyek (harta) adalah:
      1. Harta dapat dikembangkan

    Menurut jumhur ulama, adalimaobyek zakat : 1) emas dan perak (mata uang dan lainnya yang dijadikan sebagai alat tukar); 2) barang tambang dan temuan; 3) harta perdagangan; 4) hasil pertanian; dan 5) binatang ternak. Syarat harta harus dapat dikembangkan karena zakat sendiri salah satu artinya berkembang dalam arti harta tersebut dapat dikelola sehingga mengalami pertambahan. Termasuk keterampilan dan profesi yang dapat mendatangkan pendapatan. Hal ini didasarkan pada keumuman firman Allah :



    Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (Q.S. al-Baqarah : 267)
    Berdasarkan ayat di atas, Abu Hanifah berpendapat bahwa obyek harta yang wajib dizakati mencakup seluruh sumber pencaharian manusia. Pendapat ini didukung oleh Daud Zhahiri, Umar ibn Abd al-Aziz, Mujahid, danHammad ibn Abu Sulamah.

    1. Harta milik penuh

    Harta milik penuh bisa diartikan ialah harta hasil usaha sendiri, bukan hasil curian, zakat dengan hasil curian ialah haram hukumnya, adapun bagi harta pinjaman piutang, para ulama bersilang pendapat, di antaranya ada yang tidak mewajibkan secara mutlak, dan ada juga yang memandang dari bentuk hutang yang ada. Untuk piutang yang kemungkinan besar akan kembali maka wajib dizakati. Demikian pula harta barang dagangan yang belum diterima tidak kena zakat karena kepemilikannya belum sempurna.

    1. Mencapai nisab yaitu ukuran tertentu yang berlaku pada masing-masing jenis harta.
    1. Telah memenuhi haul (tahun qamariyah), yaitu dimiliki selama satu tahun, kecuali barang tambang, pertanian, dan barang temuan. Rasulullah Saw bersabda :




    “Tidak ada kewajiban zakat pada harta kecuali telah dimiliki selama setahun.” (HR. Abu Dawud)

    1. Merupakan harta yang melebihi kebutuhan pokok.

    Ibn Malik mengartikan kebutuhan pokok sebagai harta yang dapat menopang kehidupan secara mendasar, seperti makanan pokok sehari-hari, pakaian untuk menutup diri dari sengatan panas dan dingin, dan tempat tinggal berserta prabotnya sebagai tempat bernaung, kendaraan, alat-alat profesi dan produksi, buku-buku ilmiah yang tidak diperjualbelikan, karena sifatnya tidak dapat dikembangkan.
    Adapun syarat sahnya menunaikan zakat adalah niat dan pengalihan kepemilikan. Pengalihan kepemilikan ini berarti berpindahnya harta itu kepada dan dikuasai sepenuhnya oleh orang yang berhak. Maka, memberi makan kepadaorang miskin tidak dapat dikatakan sah mengeluarkan zakat karena harta itu tidak dalam kekuasaan mereka kecuali sekedar yang mereka makan. Demikian juga bila menyerahkan zakat kepadaorang gila atau anak kecil yang belum mumayyiz karena belum memiliki kecakapan secara hukum untuk bertindak, kecuali harta itu diserahkan kepada walinya.
    E.Macam-macam Harta yang Wajib Dizakatkan
    Seperti telah disebutkan, bahwa jumhur ulama menyepakatilimamacam harta yang dizakati. Adapun harta lain yang ditetapkan zakatnya maka mengikuti ketentuan yang berlaku pada salah satu obyek zakat tersebut. Pada umumnya,nisab semua harta yang dizakati adalah 2,5% dari nilai 85 gram emas atau lebih, kecuali yang berlaku pada hasil pertanian dan barang tambang/temuan.

    1. Emas dan Perak (uang dan alat tukar transaksi lainnya)

    Nisab emas yang wajib dizakati adalah mencapai 20 dinar dan jumlah perak yang wajib dizakati adalah senilai 200 dirham.MenurutWahbah al-Zuhaili, ulama pada umumnya menyamakan 20 dinar (Saudi Arabia) dengan 85 gram emas, sedangkan 200 dirham senilai dengan 642 gram perak. Kalangan Jumhur selain Syafiiyah berpendapat bahwa jumlah emas dan perak dapat digabungkan sehingga nilainya mencapainisab, sehingga wajib dikeluarkan zakatnya. Hal itu karena jumlah 20 dinar setara dengan 200 dirham, atau satu dinar sama dengan sepuluh dirham.Nisab zakat emas dan perak harus mengikuti harga jualnya dan sesuai dengan nilai mata uang di setiap masa pada setiap negara.
    Jumlah yang wajib dikeluarkan dari harta emas dan perak yang memenuhinisab di atas adalah atau 2,5%. Ukuran ini didasarkan pada hadis Rasulullah Saw sebagai berikut:



    “Jika kamu memiliki 200 dirham dan telah dimiliki selama satu tahun maka wajib mengelurkan 5 dirham daripadanya, dan tidak ada kewajiban zakat bagi kamu—yakni dari emas—kecuali mencapai 20 dinar. Kalau kamu mempunya 20 dinar dan telah dimiliki selama satu tahun maka wajib mengeluarkan setengah dinar dan selebihnya mengikutiukuran itu (HR. Abu Dawud dan Baihaqi)



    “Tidak ada kewajiban zakat pada gandum kecuali mencapailimawasaq, tidak ada kewajiban zakat pada perak kecuali mencapailimaauqiyah, dan tidak ada kewajiban zakat pada unta kecuali telah mencapi tiga hingga sepuluh ekor. (HR. Bukhari dan Muslim).
    Zakat emas dapat dibayarkan menggunakan perak dan sebaliknya, atau dibayarkan dengan uang senilai emas atau perak tersebut. Demikian pendapat jumhur kecuali Syafi’iyah. Uang logam maupun kertas yang dijadikan sebagai alat tukar juga disamakan dengan emas dan perak. Menurut jumhur ulama selain malikiyah, harta piutang yang masih berada di tangan orang lain wajib dizakati bila telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Demikian pula efek-efek yang diperdagangkan seperti saham, obligasi, dansurat-surat berharga yang dihalalkan lainnya.
    Perhiasan dari emas dan perak jika dipakai sehari-hari tidak dikenakan zakat, tetapi perhiasan jika dijadikan sebagai barang simpanan yang suatu saat akan digunakan untuk keperluan bisnis maka dikenakan zakat padanya.

    1. Barang tambang dan temuan

    Paraulama berbeda pendapat tentang barang tambang dan rikaz yang wajib dizakati danukuran besaran yang harus dikeluarkan. Menurut Hanafiyah, barang tambang dan rikaz adalah sama atau satu jenis, sedangkan jumhur ulama membedakan keduanya. Barang tambang yang wajib dizakati adalah emas dan perak menurut Syafiiyah danMalikiyah, sedangkan menurut Hanafiyah adalah semua barang tambang yang dilebur melalui proses pembakaran tidak termasuk batu aqiq dan zamrud karena tidak bisa dilebur. Imam Ahmad ibn Hanbal memasukkan semua barang yang dikeluarkan dari perut bumi, baik barang padat, seperti logam dan batu berharga maupun cair seperti minyak, aspal, garam, dan lain-lain. Pendapat ini sejalan dengan keumuman firman Allah :



    Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. (Q.S. al-Baqarah : 267)
    Jumlah yang wajib dikeluarkan dari barang tambang, menurut Hanafiyah, adalah seperlima atau 20% apabila mencapainisab emas tetapi tidak perlu ada haul. Bagi jumhur ulama, zakat barang tambang sebesar seperempat puluh atau 2,5% bila mencapainisab emas, sedangkan zakat rikaz sebesar seperlima atau 20%. Abu Hanifah menganologikan barang tambang kepada harta ghanimah sementara jumhur tidak demikian kecuali harta rikaz. Semua mazhab sepakat bahwa waktu pembayaran zakat barang tambang maupun rikaz tidak perlu menunggu waktu satu tahun dimiliki atau haul. Dalil tentang besaran zakat barang tambang dan rikaz adalah sebagai berikut :



    “Dari Abu Hurairah r.a. berkata, “Rasulullah Saw pernah bersabda, “Melukai binatang itu tidaklah dapat dituntutkan belanya, begitu pun menggali sumur dan barang tambang. Dan dalam rikaz terdapat wajib zakat sebesar seperlima.” (HR. Jama’ah)

    1. Barang perdagangan

    Barang perdagangan adalah semua barang dan jasa yang dijadikan sebagai obyek perdagangan. Wajibnya zakat perniagaan didasarkan pada firman Allah Q.S. al-Baqarah : 267 dan beberapa hadis Nabi Saw.



    Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik. (Q.S. al-Baqarah : 267)





    “Dari Samurah ibn Jundub berkata, selanjutnya sesungguhnya Rasulullah Saw pernah menyuruh kami mengeluarkan zakat dari harta yang diniatkan untuk diperjualbelikan. (HR. Abu Dawud)
    Barang perniagaan yang wajib dizakati harus memenuhi beberapa syarat :

    1. mencapai satu nisab emas
    2. barang atau nilainya telah dimiliki selama satu tahun
    3. diniatkan untuk diperjualbelikan
    4. kempemilikannya melalui transaksi timbang terima
    5. bukan barang yang dibeli untuk dipakai sendiri

    Menurut jumhur ulama selain Hanafiyah, yang digunakan untuk membayar zakat perniagaan adalah harganya, sedangkan Hanafiyah membolehkan pembayaran dengan menggunakan barang dagangan itu sendiri.
    Paraulama mazhab sepakat bahwa keuntungan dan pertambahan nilai atau barang merupakan bagian dari barang (modal pokok) yang harus dihitung dalam menentukannisabnya. Penentuan awal haul, menurut jumhur ulama, didasarkan pada awal pertama kali memulai dagang.
    Pedagang terdiri dari pedagang yang menimbun, pedagang yang tidak menimbun, dan pedagang yang sebagian barang dagangannya ditimbun dan sebagian lagi tidak. Menurut jumhur ulama, semua jenis pedagang tersebut dikenai zakat apabila telah mencapai nisab dan haul, walaupun belum sempat menjual barangnya, khususnya kepada pedagang penimbun.
    Bagaimana dengan zakatperusahaan? Perusahaan sebenarnya bukan mukallaf yang dibebani hukum, tetapi yang dibebani adalah pemilikperusahaan danorang yang bekerja di dalamnya. Zakat yang wajib dikeluarkan adalah berdasarkan persentasi kepemilikan masing-masing bagi pemilikinya, sedangkan para pekerja yang digaji didasarkan pada besaran gaji masing-masing apabila memenuhi syaratnisab dan haul.

    1. Hasil pertanian (zakat hasil bumi)

    Zakat hasil pertanian adalah wajib berdasarkan al-Qur’an, Sunnah, dan ijmak. Dalam al-Qur’an disebutkan :



    Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya). (Q.S. al-An’am : 141).



    Dari Ibn Umar r.a. dari Rasulullah Saw bersabda, “Pada setiap tanaman di lahan tadah hujan dan sumber mata air langsung wajib zakat sepersepuluh, dan setiap tanaman yang diari dengan pengairan buatan wajib zakat seperduapuluh.” (HR. Jama’ah kecuali Muslim)
    Hasil pertanian yang wajib dizakati harus mencapainisab, yaitu sebesarlimawasaq. 1 wasaq = 60 sha’ dan 1 sha’ = 2,18 kg. jadi,limawasaq = 653 kg. hanya Abu Hanifah yang tidak mensyaratkan adanya nisab. Semua ulama sepakat bahwa zakat pertanian dikeluarkan pada saat panen dan tidak harus menunggu satu tahun (haul) berdasarkan Q.S. al-An’am di atas.Adapun jenis tanaman yang wajib dizakati, para ulama berbeda pendapat.Adayang berpendapat bahwa tanaman itu merupakan makan pokok dan dapat disimpan lama seperti Syafiiyah, ada yang lebih luas yaitu termasuk semua jenis tanaman yang menghasilkan buah atau biji-bijian, dapat disimpan, dan dapat ditimbang.

    1. Binatang ternak

    Kewajiban zakat binatang ternak didasarkan pada beberapa hadis yang sahih yang meliputi unta, sapi, dan kambing. Zakat ternak menjadi wajib bila memenuhi beberapa syarat, yaitu 1) mencapai satu nisab; 2) telah dimiliki selama satu tahun; dan 3) hewan tersebut diternakkan.
    Berikut ini pedomannisab binatang ternak:

    1. Unta

    Zakat unta dan nisabnya diatur secara jelas dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Anas sebagai berikut:



    “Anas r.a. mencertikan bahwa Abu Bakar r.a. telah menulissuratini kepadanya ketika ditugaskan keBahrain, “Dengan nama Allah Yang Pengasih dan Maha Penyayang. Ini adalah kewajiban zakat yang telah diwajibkan oleh Rasulullah Saw kepada kaum muslimin dan yang diperintahkan Allah kepada rasulNya itu. Bagi umat muslim yang dimintai zakat tersebut maka harus menunaikannya, tetapi bila dimintai melebihi dari ketentuan ini maka tidak perlu menunaikannya. (Yaitu), pada setiap 24 ekor unta maka zakatnya adalah kambing. Setiaplimaekor unta zakatnya satu ekor kambing; jika mencapai 25 ekor hingga 35 ekor maka zakatnya satu anak unta betina umur satu masuk dua tahun; jika mencapai 36 ekor hingga 45 ekor maka zakatnya satu ekor unta umur dua masuk tiga tahun; jika mencapai 46 ekor hingga 60 ekor maka zakatnya satu ekor unta umur tiga masuk empat tahun; jika jumlahnya mencapai 61 ekor hingga 75 ekor maka zakatnya seekor unta umur empat masuk lima tahun; jika mencapai 76 ekor hingga 90 ekor maka zakatnya dua ekor unta umur dua masuk tiga tahun; jika jumlahnya mencapai 91 ekor hingga 120 ekor maka zakatnya dua ekor unta umur tiga masuk empat tahun; jika lebih dari 120 ekor maka setiap 40 ekor zakatnya satu ekor unta umur dua masuk tiga tahun; dan setiap pertambahan 50 ekor, maka zakatnya seekor unta umur tiga masuk empat tahu. Bagi yang hanya memiliki empat ekor unta maka tidak ada kewajiban zakat baginya kecuali kalau mau menyerahkan secara sukarela, dan jika telah mencapailimaekor unta maka wajiblah atasnya satu ekor kambing…” (HR. Bukhari)
    Berdasarkan hadis di atas, maka nisab unta adalah 5 ekor, artinya bila seseorang telah memiliki 5 ekor unta maka ia terkena kewajiban zakat. Selanjutnya zakat itu bertambah, jika jumlah unta yang dimilikinya juga bertambah dengan pedomban sebagai berikut :

    Nisab Zakat
    5-9, 1 ekor kambing
    10-14 2 ekor kambing
    15-19 3 ekor kambing
    20-24 4 ekor kambing
    25-35 l ekor bintu makhad betina (unta genap l tahun masuk 2 tahun)
    36-45 1 ekor bintu labun (genap 2 tahun masuk 3 tahun)
    46-60 l ekor hiqqah (genap 3 tahun masuk 4 tahun)
    61-75 1 ekor jadz’ah (genap 4 tahun masuk 5 tahun)
    76-90 2 ekor bintu labun
    91-120 2 ekor hiqqah

    Keterangan:
    • < 5 ekor unta tidak wajib zakat
    • Lebih dari 120, setiap 40 ekor 1 ekor bintu labun dan pada setiap 50 ekor 1 ekor hiqqoh
    • Lebih dari 120 – 129 zakatnya 3 ekor bintu labun
     

    1. Sapi

    Nisab sapi adalah 30 ekor. Artinya jika seseorang telah memiliki 30 ekor sapi, maka ia telah terkena wajib zakat. Berikut panduannya:

    Nisab Zakat
    30-39 1 ekor sapi jantan/betina tabi’ (berumur 1 tahun, masuk tahun ke-2)
    40-59 1 ekor sapi musinnah (2 tahun masuk tahun ke-3)
    60-69 2 ekor sapi tabi’ atau tabi’ah
    70-79 1 ekor sapi musinnah dan l ekor tabi’
    80-89 2 ekor sapi musinnah

    Keterangan :
    Selanjutnya setiap jumlah itu bertambah 30 ekor, zakatnya bertambah 1 ekor tabi’. Dan jika setiap jumlah itu bertambah 40 ekor, zakatnya bertambah 1 ekor musinnah.

    1. Kambing

    Ketentuan zakat yang berlaku pada kambing atau domba juga didasarkan pada lanjutan hadis riwayat Bukhari dari Anas r.a. di atas, yaitu :



    “… Kewajiban zakat atas kambing hanya yang dilepas dipadangrumput. Bila dalam jumlah 40 sampai 100 ekor kambing, zakatnya 1 ekor kambing. Lebih dari 120 sampai 200 ekor kambing, zakatnya 2 ekor kambing; lebih dari 200 ekor sampai 300 ekor kambing, zakatnya 3 ekor kambing; lebih dari 300, maka setiap 100 ekor, zakatnya satu ekor kambing. Jika seseorang memiliki ternak kambing kurang dari 40 ekor maka tidak wajib zakat atasnya, kecuali bila ia ingin melakukannya. (HR. Bukhari)
    Nishab kambing/domba adalah 40 ekor, artinya bila seseorang telah memiliki 40 ekor kambing/domba maka ia telah terkena wajib zakat.

    Nisab Zakat
    40-120 1 ekor kambing (2th) atau domba (lth)
    121-200 2 ekor kambing/domba’
    201-300 3 ekor kambing/domba

    Selanjutnya, setiap jumlah itu bertambah 100 ekor maka zakatnya bertambah 1 ekor.
    Ternak Unggas (ayam, bebek, burung, dll) dan perikanan
    Nisab pada ternak unggas dan perikanan tidak diterapkan berdasarkan jumlah (ekor), sebagaimana halnya sapi, dan kambing, tetapi dihitung sebagai barang usaha niaga.
    Nishab ternak unggas dan perikanan adalah setara dengan 20 Dinar (1 Dinar = 4,25 gram emas murni) atau sama dengan 85 gram emas. Artinya bila seorang beternak unggas atau perikanan, clan pada akhir tahun (tutup buku) ia memiliki kekayaan yang berupa modal kerja dan keuntungan lebih besar atau setara dengan 85 gram emas murni, maka ia terkena kewajiban zakat sebesar 2,5 %
    F.Zakat Bangunan, Industri, dan Alat Transportasi
    Dewasa ini bisnis tidak lagi hanya mengandalkan lahan pertanian dan perdagangan.Parapengusaha mengarahkan modalnya ke sektorindustri, transportasi, dan gedung perkantoran dan pusat-pusat pertokoan. Semua itu tentu saja tidak dapat dikenakan zakat pada bendanya, tetapi wajib ditarik dari produk dan keuntungan yang dihasilkannya.
    Meskipun para fuqaha tidak mengenakan zakat pada sektor-sektor tersebut, namun menurut Wahbah al-Zuhaili dan Yusuf al-Qardhawi, padanya dikenakan zakat karena termasukusaha yang dapat dikembangkan yang merupakan motivasi hukum dalam zakat.
    Pada muktamar ulama muslim kedua dan muktamar Buhuts Islamiyah kedua tahun 1965 diputuskan bahwa harta yang dapat berkembang tetapi tidak ditemukan adanya dalil yang mewajibkan dan tidak ada pula pendapat fuqaha tentang status hukumnya maka hukumnya adalah sebagai berikut:

    1. Tidak dikenakan zakat pada bangunan, alat-alat produksi, dan alat-alat transportasi, tetapi zakat diambil dari keuntungan bersih setelah memenuhi nisab dan haul.
    2. Jumlah zakatnya adalah 1/40 atau 2,5% yang dianalogikan pada zakat emat/perak atau perniagaan yang dikeluarkan pada saat tutup buku. Bagiperusahaan perkonsian, maka tidak dikenakan padaperusahaannya tetapi kepada para pemilikperusahaan sesuai dengan porsinya masing-masing.

    Keputusan muktamar tersebut sejalan dengan pendapat Imam Ahmad dan sebagian Malikiyah bahwa alat-alat produksi diambil zakatnya dari produk atau keuntungan yang didapatkan.
    G.Zakat Profesi
    Profesi adalah segala bentuk profesi yang dijadikan sebagai sumber mata pencaharian, baik bekerja pada pemerintah maupun swasta, baik yang terikat kontrak maupun yang tidak. Pekerja yang terikat kontrak, baik kepada pemerintah maupun swasta, mendapatkan gaji bulanan. Pemasukan yang didapatkan dari gaji ini termasuk harta hasil usaha (mal mustafad) seperti dikemukakan Yusuf al-Qardhawi.
    Semua mazhab empat sepakat bahwa harta mustafad tidak dikenakan zakat kecuali telah mencapai nisab dan haul, dan semuanya sepakat kecuali Syafiiyah bahwa harta yang disimpan dan telah mencapai nisab wajib dikeluarkan zakatnya walaupun belum satu tahun. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pendapatan dari jasa, apabila telah terkumpul cukup satu nisab walaupun belum mencapai satu tahun, wajib dikelurkan zakatnya. Besarnya zakat profesi adalah 2,5% dengan mengikuti keumuman besaran zakat pada emas dan perak. Mengeluarkan zakat dari harta mustafad tidak harus menunggu haul, tetapi apabila nisabnya telah tercapai, seperti halnya dengan zakat pertanian pada saat panen.
    H.Zakat Fitrah
    Zakat fitri ialah zakat yang disandarkan pada fitr atau makanan. Disebut juga dengan shadaqah fitri. Di Indonesia, lebih masyhur dengan nama zakat fitrah (yang disandarkan kepada kepada kembali kefitrahan setelah pembersihan jiwa selama satu bulan).
    Zakat fitri disyariatkan pada bulan Sya’ban tahun kedua setelah hijrah, bersamaan dengan disyariatkannya puasa Ramadhan. Jadi, zakat fitri lebih dahulu disyariatkan daripada zakat harta (mal). Dalil yang mewajibkan zakat fitri adalah hadis Rasulullah Saw sebagai berikut:



    “Dari Ibn Umar r.a. berkata, “Rasulullah Saw mewajibkan zakat fitri sebesar satu sha’ kurma atau gandum bagi setiap muslim : budak maupun merdeka, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupunorang dewasa, dan memerintahkan untuk ditunaikan sebelumorang-orang keluar untuk shalat idul fitri. (HR. Jama’ah)



    “Abu Said al-Khudri r.a. berkata, “Kami dulu (di masa Rasulullah Saw) mengeluarkan zakat fitri sebesar satu sha’ makanan, atau satu sha’ gandum, atau satu sha’ kurma, atau satu sha’ keju, atau satu sha’ kismis. (HR. Jama’ah)



    “Dari Ibn Abbas berkata, “Rasulullah Saw mewajibkan zakat fitri sebagai penyucian bagiorang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan tidak senonoh dan sebagai makanan bagiorang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum shalat (idul fitri) maka itu menjadi zakat yang diterima Allah, tetapi yang menunaikan setelah shalat maka itu menjadi sedekah biasa (sunnat). (HR. Abu Dawud, Ibn Majah, Ahmad dan Daruquthni yang dinilai shahih oleh al-Hakim)
    Berdasarkan hadis-hadis di atas, maka zakat fitri adalah kewajiban bagi setiap orang Islam, baik berstatus sebagai budak maupun merdeka, laki-laki dan perempuan, anak kecil dan orang dewasa. Yang berkewajiban membayar zakat adalah suami untuk anak, istri, dan tanggungan lainnya; majikan untuk pembantunya; dan tuan untuk budaknya. Besarnya zakat fitri adalah satu sha’ makanan pokok (beras, jagung, sagu, gandum, dll) atau empat mud atau kurang lebih 2,25 kg atau 3 liter per jiwa/orang.
    Ketentuan yang wajib mengeluarkan zakat adalah bagi mereka yang memiliki kelebihan makanan selama satu hari satu malam sebanyak satu sha’ dari makanannya bersama keluarganya. Ini adalah pendapat jumhur ulama. Abu Hanifah mensyaratkan bahwaorang itu harus memiliki makanan sebanyak satunisab. Menurut al-Syaukani, pendapat jumhur yang lebih tepat.
    Abu Hanifah membolehkan zakat fitri diganti dengan uang atau senilai makanan pokok tersebut. Kemudian Syaikh Ali Tantawi menjelaskan bahwa untuk zakat fitri dengan uang harus dilihat dari kondisi orang yang menerima zakat yaitu orang miskin, sebagaimana yang ia katakan “Jika fakir miskin berada dalam satu wilayah dapat membeli apa yang mereka butuhkan, dengan harga yang sesuai maka mengelurkan zakat fitri dengan uang diperbolehkan. Tapi jika mereka dalam satu wilayah pedalaman, dimana sulit mengadakan transaksi, jauh dari pasar, sementar mereka membutuhkan sesuatu yang tidak bisa terpenuhi dengan uang, maka tidak boleh mengelurkan zakat dengan membayarkan nilainya. Jadi kembali kepada maslahat fakir miskin.
    Mengenai waktu wajibnya, para fuqaha sepakat bahwa waktunya adalah pada akhir Ramadhan, tetapi mereka berbeda pendapat tentang batas waktu wajib itu. Menurut Tsauri, Ahmad, Ishaq, dan Syafii dalam qaul jadidnya, batas waktunya adalah ketika matahari terbenam pada hari terakhir bulan Ramadhan. Sementara itu, Abu Hanifah, Laits, dan Syafi’I dalam qaul qadimnya berpendapat bahwa waktu wajibnya adalah di saat terbit fajar pada hari lebaran idul fitri (1 Syawal). Akibat perbedaan pendapat ini, maka bayi yang lahir antara terbenamnya matahari pada hari terakhir Ramadhan dan sebelum terbitnya fajar di hari lebaran. Kelompok pertama mewajibkan untuk membayar zakat fitri, tetapi kelompok kedua tidak mewajibkannya.
    Penyerahan zakat fitri dapat dilakukan setelah masuknya bulan Ramadhan. Alasannya adalah karena zakat fitri merupakan bagian dari puasa Ramadhan, sehingga kalau Ramadhan sudah masuk zakat fitri pun sudah boleh dibayarkan. Seperti halnya zakat mal, apabila telah sampainisabnya meskipun belum cukup satu tahun maka boleh dibayarkan lebih awal. Demikian menurut pendapat Syafiiyah. Adapun batas akhir pembayarannya disunnatkan sebelum shalat idul fitri seperti disebutkan pada hadis riwayat Jama’ah di atas. Kalaupun tidak sempat maka paling akhir adalah sebelum terbenamnya matahari pada hari raya idul fitri dengan alasan hadis Nabi Saw, “Berilah kecukupan kepada mereka (fakir miskin) supaya tidak meminta-minta hari ini (idul fitri).” Namun, menurut Hanafiyah, kewajiban membayar zakat fitri tidak gugur karena selesainya shalat idul fitri, sebab ia merupakan kewajiban bagi harta yang tujuannya untuk mencukupi keperluanorang miskin.
    Tampaknya, apabila zakat fitri dikelola oleh amil dan panitia khusus, maka pembayaran kepada amil bisa dilakukan sejak masuknya bulan Ramadhan. Setelah Ramadhanusai, amil dapat langsung membagi-bagikan zakat kepada yang berhak. Kalau amil tidak mampu membagikan seluruh zakat fitri yang terkumpul sebelum shalat idul fitri, maka setelah shalat pun dapat diselesaikan hingga sebelumnya terbenamnya matahari. Tetapi, jika muzakki membayar langsung kepada mustahik, maka sebaiknya dilakukan sebelum shalat idul fitri.
    Mengenai peruntukan zakat fitrah, sebagian ulama mengkhususkan kepada fakir miskin berdasarkan hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dan Ahmad dari Ibn Abbas, “Rasulullah Saw mewajibkan zakat fitri sebagai penyucian bagi orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan tidak senonoh dan sebagai makanan bagi orang miskin.” Alasan lainnya adalah bahwa bahwa mustahiq yang dirinci dalam Q.S. al-Taubah : 60 menyebutkan empat kelompok pertama dengan menggunakan partikel li (milik) dan empat kelompok berikutnya menggunakan partikel fi (dalam proses). Ini menunjukkan bahwa empat kategori pertama mendapatkan zakat yang merupakan hak milik mereka dan karena itu harus diprioritaskan, sedangkan empat ketegori kedua bukan hak milik melainkan bila mereka berada dalam proses yang disebutkan supaya mendapat perhatian juga. Pertimbangannya adalah kemaslahatan. (az-Zamakhsyari, al-Kasysyaf)
    I.Mustahiq Zakat
    Antara zakat mal dan zakat fitri secara global diberikan kepada delapan golongan sebagaimana yang dijelaskan dalam surah al-Taubah : 60



    “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

    1. Fakir

    Menurut Syafiiyah dan Hanabilah, orang fakir adalah orang yang tidak memiliki harta dan pekerjaan yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya; tidak memiliki suami/istri, tidak ada keluarga yang menjamin kebutuhannya; tidak memiliki pangan, sandan, dan papan yang mencukupi kebutuhan hidupnya, seakan-akan butuh sepuluh tetapi yang dimiliki hanya tiga.

    1. Miskin

    Orang yang mampu bekerja dan mencari nafkah tetapi pendapatannya tidak mencukupi; seakan-akan butuh sepuluh tetapi yang terpenuhi hanya tiga. Di sini Syafiiyah dan Hanabilah memosisikan orang fakir lebih menderita daripadaorang miskin. Sementara Hanafiyah danMalikiyah berpendapat bahwaorang miskin lebih menderita daripadaorang fakir di manaorang miskin bagi mereka adalahorang yang tempat tinggalnya di mana saja dia berada atauorang yang tidak memiliki tempat tinggal.

    1. Amil

    Orang yang diangkat untuk mengambil dan mengurus zakat. Seorang amil zakat harus berlaku adil dan mengetahui permasalahan zakat. Pemberian zakat bagi amil merupakan upah atas tugasnya mengumpulkan, mengelola, dan mendistribusikan harta zakat.

    1. Muallaf

    Orang yang lemah niatnya masuk agama Islam sehingga perlu diperkuat dengan memberikan zakat. Mereka itu terdiri orang Islam dan orang kafir. Orang kafir yang termasuk muallaf ada dua: pertama, orang yang diharapkan kebaikannya, dan kedua, orang yang ditakutkan kejahatannya. Menurut Hanafiyah dan Syafiiyah, orang kafir tidak boleh diberi zakat dengan alasan menjinakkan hatinya ataupun alasan lainnya. Kebolehan memberikan zakat kepada orang kafir hanya berlaku di awal Islam ketika jumlah umat Islam masih sangat terbatas. Seluruh khulafa’ rasyidin tidak ada yang memberikan lagi zakat kepada mereka. Umar r.a. mengatakan, “Kami tidak akan memberikan apa pun karena alasan keamanan umat Islam, siapa yang mau silahkan beriman atau memilih teatp kafir. Adapunorang muslim yang muallaf dapat diberikan zakat dengan pertimbangan :

    1. Niat mereka masuk Islam sangat lemah sehingga dengan memberi zakat dapat memperkuat keimannya.
    2. Orang muslim terpandang bagi kaumnya, sehingga dengan melunakkan hatinya, diharapkan dapat membantu mengajak kaumnya masuk Islam.
    3. Orang yang tinggal di daerah perbatasan dengan musuh atau kelompok yang mengancam keamanaan umat Islam. Mereka diharapkan menjadi benteng pertama bagi eksistensi umat Islam.
    4. Orang yang sukarela membantu mengumpulkan zakat dari masyarakat yang tidak memiliki petugas khusus atau amil.

    Menurut Hanafiyah danMalik, hak zakat kelompok muallaf sudah gugur sejak penyebaran Islam secara luas dan dominasinya. Allah telah memuliakan Islam dan tidak lagi memerlukan tenaga para muallaf itu.Parasahabat telah sepakat tidak memberikan lagi zakat kepada mereka dan sekarang tidak ada lagi alasan untuk memberikan zakat kepada mereka karena Islam sudah kuat. Menurut jumhur ulama, hak mereka tidak menjadi gugur dan apa yang dilakukan oleh para sahabat semata-mata karena mereka melihat tidak ada alasan untuk memberikan zakat kepada mereka. Namun, jika ada alasan lain yang tepat, maka hak muallaf tetap harus diberikan.
    Pendapat jumhur inilah yang diambil oleh Wahbah al-Zuhaili dengan melihat kondisi yang tepat untuk memberikan bagian zakat kepada mereka. Kondisi-kondisi tersebut antara lain 1) menghindari gangguan yang mungkin datang dari mereka; 2) meminta bantuan mereka dalam jihad untuk kepentingan umat Islam; 3) mereka bekerja pada bagian pengumpul zakat; 4) sebagai media dakwah untuk melawan kristenisasi atau semacamnya; 5) untuk membantu para korban bencana; 6) mendirikan lembaga pembinaan bagi muallaf dan lain-lain.
     

    1. Hamba

    Manurut Hanafiyah dan Syafiiyah, mereka adalah hamba muslim yang bersepakat dengan tuannya untuk dimerdekakan jika membayar tebusan namun tidak memiliki cukup dana untuk itu itu.Namun bagiMalikiyah dan Hanabilah, hak pada hamba itu dapat dijadikan biaya untuk memerdekakan mereka. Kedua pendapat ini dapat dipakai karena tujuannya untuk kepentingan hamba sahaya.
    Dalam ayat di atas, disebutkan fi al-riqab yang mengandung makna membebaskan diri manusia dari segala bentuk keterikatan perbudakan dengan manusia. Menurut al-Zamaksyari, yang dimaksud fi al-riqab adalah membebaskan orang dari perbudakan mukatabah, perbudakan pada umumnya, dan tawanan. Sementara al-Zujjaj mengartikan fi al-riqab dengan fakk al-riqab (menghilangkan perbudakan).
    Bagaimana dengan sistem perbudakan saat ini? Islam datang untuk membebaskan manusia dari segala bentuk perbudakan terhadap sesama manusia. Salah satunya adalah perintah zakat yang digunakan untuk membebaskan budak. Di Eropa, pada tahun 1815 di Wina disepakati larangan perdagangan budak secara menyeluruh dan pada Konferensi Jenewa tanggal 7 September 1956 disepakati penghapusan perbudakan dengan segala bentuknya.
    Ibn Abbas, Ibn Umar, al-Hasan al-Bashri, al-Zuhri, dan kalangan Hanabilah membolehkan menggunakan dana zakat untuk pembebasan tawanan karena termasuk dalam ketegori perbudakan. Atas dasar ini, RasyidRidha mengatakan bahwa penjajahan termasuk bentuk perbudakan. Oleh karena itu, dana zakat dapat digunakan untuk membantu negara-negara Islam membebaskan diri perbudakan penjajah dan mengembalikan kedaulatan Islam. Pendapat ini didukung oleh Muhammad Syaltut dalam bukunya al-Islam: Aqidah wa Syari’ah. Dengan demikian,orang yang berada dalam kekuasaanorang lain sehingga segala hak-haknya menjadi hilang dapat dikategori sebagai budak, seperti wanita yang dipaksa bekerja sebagai pekerja seks dan mendapat ancaman dari pihak lain dan tidak dapat membebaskan dirinya kecuali menebus dirinya. Orang seperti ini dapat dibebaskan dengan menggunakan dana zakat.

    1. Orang yang memiliki banyak hutang (gharim)

    Menurut Syafiiyah dan Hanabilah, kelompok gharim adalah bagi yang berutang untuk dirinya maupun untuk orang lain, termasuk berutang untuk ketaatan maupun kemaksiatan. Orang yang berutang untuk dirinya tidak diberi zakat kecuali bila dia itu fakir, dan orang yang berutang untuk mengganti kerusakan dapat diberi zakat, meskipun orang itu berada. Alasannya, bahwa terdapat sabda Nabi Saw, “Tidak halal memberi zakat kepada orang kaya kecualilimakelompok : 1) bagi mereka yang menjadi tentara fi sabilillah, 2) amil, 3) orang berutang, 4) orang yang menalangi sesuatu dengan hartanya, dan 5) orang memiliki tetangga orang miskin lalu memberinya zakat, kemudian orang miskin itu memberikan hadiah kepada yang memberinya zakat. (HR. Abu Dawud dan Ibn Majah dari Abu Said al-Khudri).
    Hanafiyah mengatakan bahwa gharim yang boleh diberi zakat adalahorang yang terlilit utang tetapi tidak cukup memiliki harta untuk melunasinya.Malikiyah mengatakan bahwa gharim adalahorang yang berutang kepadaorang lain bukan karena kebodohan atau kerusakan atau untuk kemaksiatan, tetapi tidak mampu melunasinya.

    1. Sabilillah

    Balatentara yang berjuang di jalan Allah tetapi tidak memiliki gaji khusus dari negara. Menurut Abu Hanifah, zakat itu untuk hanya tentara yang fakir. Menurut Hanabilah dan sebagian Hanafiyah, haji termasuk sabilillah sehingga kalau adaorang miskin hendak berhaji tetapi biayanya belum cukup, dapat diberikan zakat. Alasannya adalah hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dari Ibn Abbas bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya haji itu termasuk fi sabilillah:.

    1. Musafir

    Musafir adalah orang yang melakukan perjalanan jauh atau hendak melakukan perjalanan jauh dalam rangka tidak maksiat kepada Allah, namun mereka tidak cukup dana untuk bepergian atau setelah di tengah perjalanan mengalami kehabisan bekal, maka mereka diberi sekedarnya untuk memenuhi hajatnya. Termasuk pula bagi umat Islam yang hendak menghindari suatu pemerintahan yang zhalim yang menganiaya mereka. Begitu pula bagi mereka yang bertugas menyiarkan ajaran Islam ke daerah-daerah lain.
    Bagaimana jika zakat diberikan kepada orang selain dari delapan kelompok di atas? Jumhur ulama memang sepakat mengatakan bahwa selain dari delapan kelompok di atas, tidak boleh diberi zakat, seperti untuk kepentingan sarana dan prasarana publik : membangun masjid, jembantan, jalan, pengairang, bendungan, dan lain sebagainya. Namun, al-Kasaniy dalam al-Bada’i` menafsirkan sabilillah dengan segala perbuatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Dengan begitu, maka segala kegiatan yang dimaksudkan untuk ketaatan kepada Allah dan mengarah kepada kebaikan termasuk sabilillah. Sebagian Hanifah mengartikan sabilillah dengan menuntut ilmu, walau pelajarnya termasukorang berada.
    Paraulama berselisih pendapat tentang kadar zakat yang dibagikan kepada yang berhak. Menurut Syafiiyah dan Hanabilah, zakat diberikan kepada fakir dan miskin sebesar yang dapat mengentaskan kebutuhan mereka atau sebesar modal yang dapat dipakai untuk berdagang. Bagi pengurus dan pengelola zakat, maka para ulama sepakat memberikan zakat senilai dengan tenaganya. Untuk gharim, maka besaran zakat baginya adalah sejumlah yang dapat melunasi utang-utangnya.
    J.Zakat sebagai pengganti pajak
    Wahbah al-Zuhaili tidak membolehkan pajak dijadikan sebagai media pembayaran zakat. Menurutnya, zakat itu merupakan ibadah wajib bagi umat Islam sebagai bentuk syukur dan media takarrub kepada Allah, sementara pajak tidak ada kaitannya dengan ibadah. Zakat itu memiliki sejumlah syarat-syarat tertentu, termasuk niat untuk berzakat, sementara pajak niatnya untuk membayar zakat. Namun, keberatan Wahbah al-Zuhaili menyebabkan umat Islam akan terbebani oleh dua kewajiban pada satu obyek, yaitu wajib membayar pajak dan wajib membayar zakat.
    Untuk menghindari beban ganda tersebut, maka dalam UU No. 38 Tahun 1999 diatur mengenai zakat dan pajak ini. Pada pasal 14 ayat 3 disebutkan “Zakat yang telah dibayarkan kepada amil zakat dapat dikurangkan dari laba/pendapatan sisa kena pajak dari wajib pajak yang bersangkutan sesuai dengan peraturan danperundang-undangan yang berlaku”. Dalam penjelasan UU tersebut dikatakan bahwa pengurangan zakat dari laba/pendapatan sisa kena pajak dimaksudkan agar wajib pajak tidak terkena beban ganda, yakni kewajiban membayar zakat dan pajak. Kesadaran membayar zakat dapat memacu kesadaran membayar zakat. Secara teknis, wajib pajak dapat menyertakan bukti pembayaran zakat yang diterbitkan oleh BAZ/LAZ yang berbadan hukum untuk mengurangi beban pajaknya pada obyek tertentu. Ketentuan ini sudah diakomodasi pada UU No. 7 Tahun 2000 Tentang Pajak Penghasilan pada pasal 9 huruf “g”.
    Pajak bagi sebuah bangsa merupakan urat nadi bagi eksistensinya. Pajak adalah kewajiban yang dikenakan kepada warga negara atau lainnya untuk memenuhi anggaran dan belanja negara. Bagi umat Islam, pajak merupakan kewajiban tambahan dari harta yang dimilikinya selain zakat. Pertanyaannya adalah adakah kewajiban lain selain zakat pada harta seorang muslim? Di manakah posisi pajak bagi harta umat Islam?
    Islam mempunyai pandangan hidup terhadap harta yang selalu dikaitkan dengankenyataan dan fakta yang ada dalam masyarakat. Dari satu segi, harta adalahurat nadi dari kehidupan, baik bagiindividu maupun masyarakat secara kolektif. Dalam kaitan ini Allah berfirman:



    Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (Q.S. al-Nisa’ 4: 5)
    Ayat di atas menghendaki agar harta itu didistribusikan sedemikian rupa hingga dapat menjamin hidup setiapindividu dan memenuhi kebutuhan makan, minum, pakaian, tempat tinggal, serta semua kebutuhan dasar. Dengan begitu, tidak adaorang yang akan terlantarkan karena tidak memiliki nafkah untuk bekal hidup. Untuk itu, Islam mewajibkan zakat bagiorang kaya agar memenuhi kebutuhanorang miskin dan yang senasib dengan mereka sampai batas kecukupan mereka dan membebaskannya dari kesengsaraan hidup dan beban kehidupan.
    Zakat bukanlah suatu karunia yang diberikan orang kaya kepada orang miskin, tetapi ia adalah hak atau kewajiban yang dititipkan Allah di dalam harta orang kaya. Dari sanalah secara tegas Allah menggambarkan bahwa harta itu tidak hanya beredar dan dikuasai oleh segelintir orang kaya saja, tetapi harta adalah untuk semuanya, baik kaya maupun miskin, sebagaimana berfiman Allah, “Agar harta itu tidak hanya beredar di kalangan orang kaya saja di antara kamu.” (Q.S. al-Hasyr : 7).
    Dengan demikian, zakat itu merupakan hak dan kewajiban pada harta yang dapat memenuhi kebutuhanorang miskin, menutupi cela-cela kelemahan mereka, melenyapkan kesengsaraan, mehilangkan kelaparan dan menjami keamanan mereka. Dan jika perlu, haruslah di dalam harta itu ada hak lain selain zakat. Hak atau kewajiban itu tidak dapat ditentukan atau diperhitungkan kecuali terpenuhinya kebutuhan orang miskin, maka hendaklah dipungut dari hartaorang-orang kaya itu selain zakat untuk memenuhi dan menutupi kebutuhanorang miskin. Alasan adanya kewajiban lain dari harta selain zakat adalah firman Allah berikut ini :



    Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Q.S. al-Baqarah 2: 177)
    Dalam tafsir al-Qurthubi disebutkan bahwa firman Allah, wa ±t± al-m±la `al± ¥ubbih³ (memberikan harta yang dicintainya) dijadikan dasar bahwa di dalam harta itu terdapat kewajiban lain selain zakat manakala zakat tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhanorang miskin. Hanya dengan begitu maka kebajikan seseorang itu menjadi sempurna. Sayyid Sabiq mendukung pendapat ini dan menambahkan alasan lain, yaitu hadis riwayat al-Daruquthni dari Fatimah bint Qais :



    “Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya di dalam harta itu terdapat hak (orang miskin) selain zakat. Kemudian beliau membacakan ayat Q.S. al-Baqarah 2: 177, “Bukanlah suatu kebajikan yang sesungguhnya jika engkau memalingkan wajahmu ke … dan seterusnya”
    Paraulama sepakat bahwa apabila terjadi keadaan yang membutuhkan dana untuk kepentingan umat Islam tetapi dana zakat tidak mencukupi maka wajib hukumnya mengeluarkan harta selain zakat. Imam Malik mengatakan bahwa wajib hukumnya bagi umat Islam untuk menebus tawanan muslim yang berada di tangan musuh (Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah).
    Muhammad Abduh dalam Tafsir al-Manar menafsirkan ayat Q.S. al-Baqarah 2: 177 di atas dengan mengatakan bahwa pemberian yang dimaksud dalam ayat ini adalah pemberian selain zakat, salah satu pilar kebajian atau kemaslahatan dan hukumnya wajib seperti halnya zakat. Kewajiban itu berlaku manakala keadaan menghendaki. Pemberian ini tidak terikat dengannisab atau haul, tetapi dikeluarkan menurut kemampuan masing-masing. Bahkan, Ibn Hazm mengatakan bahwa para hartawan setiap negeri wajib mengurus fakir miskin mereka di bawah pengawasan dan tekanan dari pihak penguasa. Yakni, bila zakat dan harta kaum muslimin lainnya tidak mencukupi kebutuhan mereka berupa sandang, pangan, dan papan.
    Dengan demikian, membayar pajak yang merupakan sumber utama pendapatan negara juga merupakan kewajiban karena bertujuan untuk memenuhi kepentingan umum. Pemerintah melalui pajak dapat memberikan jaminan sosial bagiorang-orang miskin, seperti anak yatim,orang lanjut usia, dan kelompok lainnya yang lemah secara ekonomi. Pemerintah dan para hartawan harus menjalin kerjasama atau mendirikan lembaga khusus yang dapat dijadikan sebagai lembaga sosial tempat penampungan, pembinaan, dan pengembangan bagi mereka. Di sinilah pentingnya wakaf yang dapat dijadikan sebagai dana abadi bagi kesejahteraan mereka yang lemah secara ekonomi maupun sosial.
    K.Intisati dan Hikmah Zakat
    Adanya perbedaan rizki yang diterima oleh manusia dengan perbedaan sumber pencahariannya merupakan suatu hal yang sunnatullah. Agar terjadi keseimbangan hidup maka Allah mensyariatkan zakat. Zakat ini merupakan suatu kewajiban bagi yang berpunya untuk diberikan kepada yang tidak berpunya sebagai kelompok yang berhak. Zakat ini merupakan solusi untuk menghilangkan ketimpangan kesejahteraan yang terjadi dalam masyarakat sebagai wujud solidaritas dalam komunitas Muslim. Dengan demikian, zakat menyimpan sejumlah hikmah yang sangat besar antara lain sebagai berikut:

    1. Mengurangi kesenjangan sosial antara mereka yang berada dengan mereka yang miskin sehingga orang kaya merasa aman dari kecemburuan sosial orang-orang yang tidak berpunya. Rasulullah Saw bersaba, “Jagalah harta kalian dengan zakat, obatiorang sakit di antara kalian dengan sedekah, dan tolaklah bala marabahaya dengan melakukan doa!” (HR. Thabarani dan Abu Dawud).
    2. Membantuorang fakir danorang-orang yang membutuhkan modalusaha untuk mencari kegiatan produktif sehingga dapat meningkatkantaraf hidupnya. Namun, bila mereka tidak memiliki keterampilan atau kemampuan untuk berusaha maka zakat setidak-tidaknya dapat menjauhkan masyarakat dari penyakit kemiskinan, dan sekaligus menghindarkan negara dari goncangan ekonomi. Masyarakat bertanggungjawab atas solidaritas sosial untuk mengentaskan kemiskinan. Rasulullah Saw bersabda, “Allah telah mewajibkanorang-orang kaya muslim untuk membantuorang miskin yang dapat mencukupi kebutuhan mereka.Orang miskin tidak akan menderita kekurangan pangan dan sandang kecuali akibat ulahorang-orang kaya di sekitar mereka. Ketahuilah, Allah akan memperhitungkan mereka dengan ancaman keras dan azab yang pedih.” (HR. Al-Thabarani). Dalam riwayat al-Thabarani yang lain dikatakan, Rasulullah Saw bersabda, “Neraka wail bagiorang-orang kaya karena perlakuannya terhadaporang-orang miskin.Orang miskin akan mengadu kepada Allah, “Mereka telah menzhalimi hak-hak kami yang telah Engkau wajibkan atas mereka!” Allah menjawab, “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku pasti akan mendekatkan kalian kepadaKu dan menjauhkan mereka dari sisi-Ku.” Rasulullah Saw kemudian membacakan ayat, “Dan bagiorang-orang yang pada hartanya terdapat hak-hak tertentu bagiorang-orang yang meminta-minta dan perlu dikasihi.” (Q.S. al-Ma’arij : 24-25)

    Implikasi yang baik dari mengeluarkan zakat tidak akan ke mana-mana, tetapi akan kembali kepadaorang yang menunaikannya sendiri karena dengan sendirinya ia telah memberikan sumbangsih bagi pertumbuhan dan menguatnya daya beli masyarakat miskin sehingga uang yang diterima mereka akan dibelanjakan kembali kepadaorang kaya itu.

    1. Zakat akan menyucikan jiwa dari penyakit kikir dan tamak dan menggantinya dengan pembiasaan diri untuk rela berkorban untuk orang lain sehingga lambat laun tidak hanya pada zakat, tetapi juga pilantrophi yang lainnya. Orang seperti itu sekaligus akan dengan mudah berkorban bila negara membutuhkan uluran tangannya, termasuk membantu negera untuk menciptakan kesejahteraan sosial secara merata. Pilanthropi dalam Islam tidak terbatas hanya pada zakat saja, tetapi ada banyak bentuk ibadah yang lain, seperti wasiat, wakaf, hibah, kurban, dan sedekah lainnya. Bahkan, terdapat sejumlah ibadah bila dilanggar maka sanksinya dengan mengeluarkan harta, seperti melanggar sumpah, diat pembunuhan tidak sengaja, tidak menunaikan puasa Ramadhan dengan alasan yang dibenarkan, dan lain-lain. Semuanya bertujuan untuk menjalin solidaritas sosial antara yang punya dan tidak berpunya, menciptakan hubungan tali silaturahim dan cinta bagi semua anggota masyarakat, dan memperkuat keharmonisan dan keakraban bagi semua.
    2. Sebagai bentuk syukur kepada Allah atas nikmat harta yang telah dianugrahkan. Orang yang bersyukur akan mendapatkan tambahan nikmat yang lebih besar dari Allah.

    L.Penutup
    Agama Islam yang misi utama adalah terwujudnya kemaslahatan bagi umat manusia, baik di dunia maupun di akhirat, telah memberikan berbagai ajaran yang begitu agung. Ajaran tersebut, zakat sebagai bagian daripadanya, semata-mata untuk kepentingan dan kebahagiaan hidup manusia itu sendiri, dan sama sekali bukan untuk kemaslahatan Allah. Kepedulian sosial dan keberpihakan bagi kepentingan umum (fi sabilillah) yang diajarkan oleh Islam melalui lembaga zakat hendaknya menjadi bagian akhlak seorang mukmin. Kedua hal tersebut tidak saja akan menciptakan suatu tatanan masyarakat yang harmonis, damai, aman, dan sejahtera tetapi juga sekaligus menjadikan Islam itu sendiri sebagai bahagian dari kebahagiaan umat manusia. Pribadi seorang muslim yang memiliki sikap kepedulian sosial dan mementingkan kepentingan umum akan menjagi nilai tersendiri bagi terciptanya suatu peradaban yang bermartabat dan manusia.
    Terlepas dari itu semua, zakat sebagai bagian dari ibadah merupakan perwujudan dan pembuktian kehambaan seorang manusia kepada Allah sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan mendapatkan keridhaannya. Dengan zakat, manusia akan terbebaskan dari kungkungan hawa nafsu, egoisme, serta keakuan terhadap segala prestasi yang telah dicapai, terutama dalam kaitannya dengan harta. Selanjutnya, manusia akan menyadari bahwa semua itu datangnya dari Allah dan hanya Allah yang layak memiliki keakuan dan kepemilikan terhadap semua yang dicapai sang hamba tersebut.