Dunia Islam | Muslim Life | Page 14
Home » Archive by category 'Dunia Islam' (Page 14)

Tentara Australia di Afghanistan Terus Dikurangi

Konflik yang menuju pada kehancuran Afghanistan, sesudah aneksasi AS dan Nato terhadap negara tersebut belum menunjukkan tanda-tanda akan selesai. Campur tangan internasional berkedok pencarian Osama Bin Laden, yang tujuannya sebagai upaya penguasaan sumber-sumber minyak/energy di Afghanistanpun, hanya meninggalkan duka dan darah dimana-mana.
Hingga kin,  sudah ribuan Tentara Koalisi di Afghanistan tewas, semenjak invasi AS dan konco-konconya ke negeri tersebut. Tahun ini saja jumlah tentara koalisi yang tewas jumlahnya lebih 500 orang.
Jumlah total tentara asing yang ada di Aghanistan hingga kini mencapai 140.000-an orang, dari jumlah tersebut, hampir ¾ nya atau lebih 100.000 orang, asal AS. Sementara, jumlah yang tewas semenjak invasi tahun 2001, berhasil mendongkel Taliban, mencapai ribuan orang, dalam kecenderungan jumlah yang meninggal rata-rata meningkat setiap tahunnya.
Salah satu negara yang ikut partisipasi pada operasi militer di Afghanistan adalah Australia. Perang di Afghanistan telah merenggut nyawa 28 orang tentara negeri Kanguru itu, semenjak 2001, saat ini ada sekitar 900 orang serdadu Australia di negeri seribu bukit itu.
Kabar yang mengejutkan,datang minggu lalu. Rencananya Australia akan mempercepat penarikan tentaranya yang bertugas di Afghanistan tahun depan. Sydney Morning Herald melaporkan, beberapa sumber telah mengungkapkan Departemen Pertahanan sedang mengerjakan rencana untuk secara dramatis mengurangi jumlah prajuritnya.

Berdasarkan rencana tersebut, Australia hanya akan menyisakan 150 prajuritnya, yang akan dirotasi ke Uruzgan sebagai satu kelompok untuk melatih tentara Afghanistan pada penghujung 2012, kata surat kabar tersebut, tanpa menyebutkan sumbernya.

Canberra telah berulangkali menyatakan Australia bermaksud tetap menempatkan tentara di negara yang diporakporandakan perang tersebut sampai 2014, tapi Perdana Menteri Julia Gillard pada November mengisyaratkan penarikan dini dapat saja terjadi.

Gillard mengatakan waktu bagi penarikan total personil Australia di Afghanistan, “bisa diselesaikan sebelum akhir 2014″, sehubungan dengan kemajuan yang berlangsung di sana.

Donna Eljammal, Polisi Berjilbab Pertama di Swedia

Umat Islam rupanya kian memperoleh apresiasi di beberapa negara, di tengah tudingan sebagian masyarakat terutama Eropa dan Amerika, tentang ajaran Islam yang dituding sebagai ajaran “menakutkan” dan sering dihubungkan dengan kata-kata teroris. Namun ternyata tidak semua Negara Eropa berpandangan demikian.
Salah satunya seperti yang dialami Donna Eljammal, wanita cantik berusia 26 tahun, yang merupakan polisi Muslimah pertama di Swedia yang mengenakan jilbab dalam tugas sehari-harinya. Demikian dilaporkan Metro Se, Rabu (7/12).

Ia mengungkapkan bahwa keinginannya untuk menjadi anggota polisi jauh sebelum dirinya mengenakan jilbab. “Sejak aku masih kecil. Saya ingin membantu orang lain sehingga dapat bergerak dan bukan hanya duduk di depan komputer,” tuturnya.

Beberapa tahun yang lalu mengenakan jilbab menjadi mungkin, sebagai bagian dari seragam polisi, pascabeberapa perdebatan. Berutntungnya menurut dia, Swedia adalah sebuah negara multikultural dan itu penting bahwa, dalam setiap bidang, akan ada orang-orang dari latar belakang yang berbeda, karena ingin meningkatkan pengetahuan dan pemahaman.

“Saya tumbuh di Piteå kecil dan kami berada di antara keluarga imigran pertama di sana. Bahkan ketika saya bekerja di lapas (Lembaga Pemasyarakatan) aku adalah orang pertama yang mengenakan jilbab. Tapi tidak ada banyak komentar tentang jilbab ketika mereka harus tahu saya sebagai pribadi,” bebernya.

Eljammal tidak berpikir melepaskan jilbabnya saat bekerja. Dia melihat jilbab sebagai bagian dari dirinya dan dapat melakukan segala sesuatu dengan jilbab, sehingga dia melihat tidak ada gunanya untuk melepaskannya, disamping dia juga tak merasakan tekanan dari siapapun, ketika mengenakan jilbab. Sumber Republika

DPR Prioritaskan Revisi UU Penyelenggaraan Haji

Ibadah haji yang dinilai oleh banyak pihak masih terkendala kelancaranya pada banyak hal, mendapat sorotan tajam di DPR. Bahkan, Komisi VIII DPR-RI memprioritaskan untuk merevisi UU No. 13 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Haji di 2012.

Salah satu anggota DPR yang menangani masalah Revisi UU tentang haji ini adalah Komisi VIII DPR, Abdul Hakim. Menurutnya, beberapa persoalan krusial dalam penyelenggaraan haji tengah terjadi di tahun ini, dan hal ini bermuara pada beberapa hal penting, untuk segera ditangani, jika pelaksanaan ibadah haji tahun depan ingin lebih baik. Hal tersebut adalah, perbaikan di sector  pelayanan haji. Pelayanan haji, tambahnya perlu perbaikan dan kerja ekstra keras.
Dia juga menyebut mengenai lembaga penyelenggara haji, pengelolaan kuota haji, biaya ibadah haji, hingga pengelolaan dana abadi umat. Kesemua hal tersebut, nantinya diharapkan bisa terakomodir secara lebih proporsional dan pas, di revisi UU tentang haji. “ Selama ini, persoalan seputar penyelenggaraan haji sudah menumpuk,” katanya,
Revisi UU 13/2008 ini bertujuan untuk memperbaiki kelemahan yang selama ini muncul dalam hal pengelolaan penyelengaraan ibadah haji. Salah satu solusi yang akan ditawarkan adalah membentuk  badan khusus di luar pemerintah, untuk melakukan pengelolaan ibadah haji. Selain itu, perlu juga diatur pemisahan rekening penyelenggaraan ibadah haji dengan rekening keuangan Kementerian Agama.

Untuk meningkatkan akuntabilitas, terutama pada penguatan fungsi pengawasan pengelolaan dana-dana yang berkaitan dengan ibadah haji seperti BPIH, dana optimalisasi yang merupakan bunga dari dana setoran awal haji dan dana abadi umat, dalam revisi UU 13/2008 ini akan diusulkan penambahan bab tentang audit keuangan penyelengaraan ibadah haji.

Disamping mengupayakan revisi UU 13/2008, pemerintah juga sedang mempersiapkan RUU tentang Pengelolaan Keuangan Haji,yang masih digodok oleh Kementerian Agama. Agar tidak terjadi tumpang tindih, Hakim mengusulkan agar RUU Pengelolaan Keuangan Haji yang tengah disiapkan pemerintah, sebaiknya digabungkan dengan revisi UU 13/2008 yang sedang digodok panja DPR. Sumber Republika

Konflik Pattani Diyakini Akan Berakhir Jika Pahami Islam Dengan Benar

Penyelesaian konflik Pattani dapat diselesaikan dengan pemahaman terhadap ajaran Islam di kalangan Muslim. Sebab, uang ataupun senjata tidak akan menyelesaikan konflik.  Sudah banyak contohnya, kekerasan sedikitpun tak bakal memecahkan masalah, apalagi konflik perang saudara se-Negara.

Salah seorang komandan tentara yang menguasai distrik Pattani,  menyatakan, pihaknya tidak menginginkan Muslim Pattani berada di pihak pemerintah atau negara, dia hanya ingin agar mereka benar-benar memahami agamanya,” ungkap Direktur Pusat Perdamaian Pattani, Kolonel Chatchapon Sawangchote, seperti dikutip csmonitor.com, Rabu (7/12).

Diakuinya, pihaknya telah meminta bantuan organisasi Jamaah Tabligh, sebuah gerakan Islam global yang berkembang pesat di Thailand. Menurutnya, bantuan organisasi yang dipimpin Imam Yeemae Pattalung itu dapat membantu penyelesaian konflik Thailand selatan mencapai titik terang.

Dia mengutip statement Pattalung bahwa penyelesaian konflik Thailand Selatan harus dimulai dengan meluruskan kesalahpahaman yang terakumulasi secara sistematis dalam waktu yang lama.

Selanjutnya menurut Pattalung, kelompok militan Pattani telah mendistorsikan ajaran Islam untuk kepentingan kelompoknya. Mereka menggunakan “Keyakinan Jihad” untuk membenarkan apa yang menjadi agenda kelompok tersebut. “Apa yang terjadi di Thailand selatan bukanlah perang jihad,” kata Pattalung.

Sawangchote mengakui persoalan Thailand Selatan bukanlah semata-mata soal agama. Ada persoalan lain yang luput dari perhatian. Salah satunya keberadaan militer yang terus dipertahankan tanpa pernah direduksi pemerintah.

Meski demikian, keduanya optimis perdamaian di Thailand akan terwujud. Namun, membutuhkan proses panjang. “Perdamaian itu seperti koin, kadang berubah posisinya dengan cepat,” kata Pattalung.

Namun, ada kekhawatiran dari berbagai pihak soal kinerja proyek perdamaian di Pattani. Kekhwatiran itu bermula dari ada dugaan penyusupan kelompok militan dalam organisasi beranggotakan 4.000 relawan tersebut.

Jurnalis dan analis keamanan yang berbasis di Yala membantah dugaan itu. Sebab, konflik Thailand Selatan bukanlah Afghanistan atau Pakistan. “Madrasah di kawasan Pattani tidak melahirkan generasi militan atau ekstrimis,” kata dia. Sumber : Republika

PM Singapura : Mesjid Mesti Jadi Bagian Masyarakat Singapura

Muslim di Singapura saat ini jumlahnya diperkirakan berjumlah sekitar 500 ribu,atau 15 persen populasi. Umlah tersebut tampaknya terus bertambah dan akan memberikan tambahan sentuhan pluralitas di negeri singa itu.
Beberapa waktu yang lalu, ratusan pemimpin masjid di Singapura berkumpul dalam Konvensi Masjid 2011. Di pertemuan tersebut mereka membahas rencana yang akan dilakukan selama lima tahun ke depan.
Acara difasilitasi oleh Dewan Agama Islam Singapura (MUIS). Mereka ingin memberikan pesan ‘keterbukan’ kepada jamaah. Mereka ingin menjadikan masjid sebagai tempat bagi semua orang.
Para pemimpin masjid disarankan untuk lebih banyak melibatkan  individu dan kelompok di luar masjid mereka.  Hal ini penting untuk menumbuhkan empati terhadap orang lain yang membutuhkan bantuan.  “Ketika seseorang nyaman berada di masjid, maka kita bisa memperkenalkan program masjid dan memberikan bimbingan spiritual yang diperlukan,” kata Alami, ketua MUIS.
Para pemimpin masjid juga diharapkan mampu menjangkau muslim non-warga negara atau warga negara baru. Masjid diharapkan dapat memberikan layanan sosial-keagamaan, sekaligus dapat berinteraksi lebih banyak dengan muslim setempat.
Perdana Menteri Lee Hsien Loong juga mengatakan akan membangun secara bertahap identitas Muslim Singapura. “Sebuah komunitas yang nyaman dalam menegakkan iman mereka. Dan juga terintegrasi ke dalam masyarakat kita yang multiras dan multi agama,” ujar Loong.
Ketika ada muslim pendatang baru, ia berharap akan terintegrasi dalam sistem ini. Ia juga berharap, dalam bersosialisasi dengan masyarakat, masjid dapat menjadi bagian dari masyarakat Singapura. Sumber : Republika

Perlu Profesionalisme Pengelolaan Zakat di Tengah Potensinya yang Luar biasa

“Potensi zakat yang sangat luar biasa seringkali tidak diimbangi dengan profesionalisme dari pengelola zakat,” Kata Dr.M.Irwan, Dosen FE Universitas Mataram. Sehingga hal ini kontra produktif dan membuat kepercayaan masyarakat kepada Bazda tergolong rendah yang ujung-ujungnya berpengaruh pada tingkat penghimpunan dana zakat.
Hal ini mengemuka pada acara Seminar Nasional tentang zakat yang merupakan rangkaian dari pembukaan rakernas VIII Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH),  yang menghadirkan pembicara, Dr.H.Abdul Mannan,MM Ketua Umum PP Hidayatullah.
Acara sendiri digelar di Aula Graha Praja Kantor Gubernur NTB (02/11/2011) dirangkai dengan seminar nasional bertema “zakat sebagai pilar peradaban Islam”.
Di Kalangan Birokrasi NTB sendiri tambah DR M Irwan, potensi zakatnya ,mencapai jumlah yang cukup besar, 1,4 Milyar, belum lagi kalangan swasta”. Ujar Dr.M.Irwan dalam paparannya menyampaikan berbagai data temuannya ketika meneliti tentang zakat untuk disertasi doktornya.
Dalam sambutan tertulisnya, gubernur termuda di Indonesia ini, Zainul Majdi, menyatakan apresiasinya terhadap peran BMH dalam ikut membangun NTB melalui zakat. Zakat dalam sejarah kejayaan Islam telah mampu menjadi solusi untuk menopang kejayaan peradaban Islam.

Dia juga berharap agar potensi zakat di kawasan NTB sekaligus di masyarakatnya, akan terus meningkat. Sehingga, zakat juga bisa menjadi solusi agar segera tercipta kemakmuran bersama.
Dari berbgai sumber, Harapan besar Gubernur NTB itu memang bukan omong kosong. Di beberapa negara, seperti Negara tetangga, Malaysia, Zakat sudah berhasil mengangkat taraf  hidup jutaan orang miskin di sana, demikian pula banyak anak-anak bisa bersekolah serta ikut meningkatkan taraf kesehatan masyarakat terutama kalangan tak mampu, lewat pelayanan rumah sakit. Sumber:  Hidayatullah.com

Hasyim Muzadi: Hati-hati Islam Phobia Masuk Lewat Ibadah Haji

Ibadah haji yang pelaksanaannya dikelola oleh Kementerian Agama ( Kemenag) mulai digugat oleh beberapa kelompok masyarakat yang disinyalir oleh KH Hasyim Muzadi sebagai bagian dan upaya dari golongan Islam phobia menimbulkan ketidak tenangan di masyarakat.
Gus Muz meminta Umat Islam waspada terhadap “Islam Phobia”. Indikasinya menurut Gus Muz, makin gencarnya sejumlah pihak  menginginkan agar penyelenggaraan ibadah haji diserahkan kepada badan, bukan pemerintah.

Ditakutkannya,penyelenggaraan Ibadah Haji membutuhkan sumber daya luar biasa dan malah takkeruan  jika diserahkan ke pihak lain selain pemerintah apalagi jika sampai Yahudi yang masuk mengelolanya. Ibadah haji menurutnya tidak sekedar travel atau pariwisata, melainkan juga sarat dengan nilai syariatnya. “Penyelenggaraan ibadah haji adalah diselenggarakan dalam manasik syareat, sehingga harus ditangani pihak yang bener-benar memahami pelaksanaan ritual itu,” ujarnya.

Diakui, penyelenggaraan Ibadah Haji punya banyak kelemahan, tinggal bagaimana membantu Kemenag agar optimal dalam menyelenggarakan haji ke depannya.

Hal yang perlu diperbaiki, katanya, bukan hanya sarananya tapi mutlak meningkatkan kualitas ibadahnya karena di situ ada kemabruran (apabila diterima Allah) dan bisa mendorong karakterisasi bangsa.

Dia melihat sekarang ini yang diributkan sejumlah pihak masih terbatas pondokan, transportasi, serta makanan karena memang ada rejekinya.
Ditengarai Gus Muz, permasalahan ini mengemuka karena ada factor rebutan rejeki bukan sesungguhnya kepentingan haji. Untuk itu umat Islam perlu waspada pada ‘islamo phobia’,” katanya.

Hasyim mengingatkan pula beberapa tahun lalu sudah pernah dilakukan swastanisasi haji dan pelaksanaan haji nonkuota oleh perusahaan swasta. Akibatnya, katanya, saat itu terjadi kekisruhan dimana-mana sehingga justru banyak merugikan jamaah calon haji.Sumber Hidayatullah.com

Syiar Lewat Peragaan Busana

Busana muslim, dalam beberapa tahun belakangan ini, berkembang dengan pesat. Indonesia merupakan negara yang sangat dominan dalam mempengaruhi trend busana muslim di dunia. Hal inilah yang membuat Ikatan Perancang Busana Muslim (IPBM) Jawa Barat, menggelar peragaan busana yang bertema fashion show Freedom Of Expresstion.

Evant yang di gelar di Hilton, Bandung, Jabar, menampilkan hasil karya dari para perancang yang tergabung dalam IPBM. Peragaan busana ini menampilkan produk daur ulang yang mengangkat unsur budaya dari berbagai daerah di Indonesia.

Menurut Herman Nuary, salah satu perancang yang ikut memperagakan hasil karyanya, peran IPBM sangatlah besar dalam perkembangan busana muslim di Indonesia. “ Kontribusi IPBM selama 15 tahun ini sangatlah besar. Ketika pertama berdiri belum banyak wanita yang mengenakan jilbab,” tambahnya.

Menurut data yang di sampaikan Herman, saat ini 70 persen wanita muslimah di Indonesia yang menggenakan jilbab. Bahkan, semakin hari pengguna jibab terus bertambah.“ Orang memakai baju ketat ke longgar, dari rok mini ke rok panjang tentu sebuah kebanggaan,” ungkapnya.(ogi/bbs)

Ariel Tewas Tertimpa Bangunan Sekolah

Madrasah Diniyah yang terletak di Pamekasan, Madura, Sabtu (3/12), lalu berduka. Duka tersebut disebabkan salah satu siswa sekolah Islam ini, yang bernama Ariel, meninggal karena tertimpa bangunan sekolah yang roboh diterjang angin kencang. Selain satu siswa tewas, terdata sebanyak 15 orang siswa luka-luka. Read More »